Langsung ke konten utama

Berangkat ke asrama

  "Bee.. ayo bangun Bee, udah subuh ini", kata Intan setengah berteriak di dekat telingaku.

  "5 menit lagi pliss..", jawabku yang masih berusaha kembali menutupi wajahku dengan selimut.

  "Bangun hei, kamu mandi nya lama, cepet bangun, kalau enggak cepetan siap-siap, kita bakal ketinggalan angkot yang paling pagi", cerocos sahabatku ini sambil mengibaskan handuk basah bekas mandi nya ke wajahku.

Seketika aku langsung menyibakkan selimut, aku baru ingat kalau hari ini adalah hari pertama kami pindah ke mess (asrama), oh iya sehari sebelumnya Intan diantar kedua orangtuanya ke rumahku untuk menginap agar kami bisa berangkat bersama, dan entah kita berdua tidur jam berapa karena semalaman heboh soal barang apa saja yang akan dibawa nanti.

  Singkat cerita kami berpamitan dengan Ibu, mbah, serta adik ku yang masih terlihat mengantuk karena baru bangun tidur.

  Selama perjalanan kami berandai-andai tentang bagaimana saat kita sampai di sana nanti, kami sudah tidak sabar. Perjalanan dari rumah menuju asrama menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam karena kita harus oper kendaraan umum dua kali. 

  Setelah menghabiskan waktu sambil menghirup udara yang masih bersih dari dalam jendela, sampailah kami di depan SMP yang lokasinya berada di dekat alun-alun kota Kediri, aku dan Intan melangkahkan kaki menyusuri gang kecil yang terletak di samping sekolahan tersebut, kita berjalan lurus sejauh 100 m lalu berbelok ke kanan 50 m dan sampailah kita di halaman yang tidak terlalu luas itu, di sana terlihat bangunan tua yang jika dilihat dari bentuk daun pintu dan jendela yang tinggi serta cat tembok yang sudah usang dan sebagian lapisan tembok yang mengelupas kita semua pasti sudah bisa menebak bahwa gedung itu adalah bangunan tua zaman Belanda.

  Tidak sampai di situ, sebenarnya saat sampai di sana aku agak terkejut karena melihat di atas atap bangunan sekolah itu ada semacam lapisan kabut tipis berwarna hitam yang menutupi sepanjang atap bangunan tersebut, entah apa itu tapi aku merasa kurang nyaman saat melihatnya karena aku merasa itu seperti aura negatif, belum lagi aku makin terkejut saat melihat tembok pembatas di sisi kiri, di situ terlihat ada sosok bapak-bapak yang mengenakan baju putih lusuh namun kakinya sangat panjang sampai-sampai telapak kakinya yang keriput itu menyentuh tanah padahal tinggi tembok pembatas itu kira-kira 5 meter, sambil berlalu aku hanya bisa menundukkan kepalaku tanda menyapa dan dengan wajah datarnya sosok itu membalas anggukan ku tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


  "Wah. Bangunan nya masih model Belanda," celetuk Intan

  "Iya..", jawabku berusaha tersenyum. 

  "Eh.. eh.. eh.. kenapa kayak gitu ekspresimu?", tanya Intan sambil mengangkat alisnya.

  "Jangan bilang kamu lihat sesuatu?!", lanjutnya.

  Aku hanya mengangguk sambil tersenyum jahil, aku tahu Intan agak skeptis dengan hal seperti ini, tapi dia sudah tahu kalau aku 'berbeda' dari dulu. Jadi bukan hal baru jika tiba-tiba aku memberi isyarat tertentu Karena dia sudah paham betul tentangku. 


  "Hadeh.. plis deh.. jangan mulai dulu, kita baru sampe lohh, entar aja okay?! Kita harus keep smile biar tetep good mood karna ini hari pertama kita disini, ya.. ya.. ya..", kata Intan berusaha memberi semangat agar mood dia juga tetap bagus. 

  "Iya.. iyaaa, yaudah yuk lanjut jalan", kataku sambil menghela nafas.


  Terlihat di ujung lorong berdiri seorang gadis berambut bob style yang mengenakan kaos putih usang serta celana kolor selutut warna biru tua, dia tersenyum dan menghampiri kami yang sedang berjalan ke arah sana. 


  "Kalian Catir baru ya?!", tanyanya sambil tersenyum.

  "Catir?", tanyaku kebingungan

  "Oh iya lupa, itu singkatan untuk calon taruna taruni disini, Catar buat laki-laki, Catir buat perempuan", jelasnya dengan nada riang.

  "Oooooh begitu... Iya, iya, terus mess nya di sebelah mana ya, kak?", tanya Intan sambil celingukan

  "Ayo lewat sini", katanya sambil berlalu.


  Ketika melewati Mushola yang terletak di ujung lorong sebelah kiri, aku melihat ada kakek tua berambut putih sebahu dan mengenakan sorban lilit serta sarung biru tua. Posisinya duduk bersila menghadap mimbar sambil mulutnya komat-kamit seperti merapalkan sesuatu. 

  "Ah, mungkin beliau sedang berdzikir", pikirku.

Selang beberapa detik kemudian kakek itu melihatku dan gerakan bibirnya berhenti.

  "Assalamualaikum", sapaku sambil menundukkan kepala.

  "Hmmmm..", jawabnya pelan sambil menganggukkan kepalanya perlahan lalu melanjutkan dzikirnya. 

  "Hooooii.. ayoo, kok malah diem disitu, entar aja sholatnya, kan belum dhuhur", cerocos Intan sambil menarik tanganku pergi dari depan musholla.

  "Iya.. iyaa.. sabar ih", jawabku. Lalu kami melanjutkan menyusuri lorong-lorong sampai kita berhenti di depan pintu sebuah ruangan kosong seluas 20 × 20 m. Ruangan itu nampak kosong dan bau khas cat tembok yang masih basah. Sampailah kita di mess yang akan jadi tempat tidur kami.

  ketika sampai di pintu asrama, kami disambut dengan 2 orang wanita yang sebaya dengan kami, yang satu bertubuh ramping dengan potongan rambut cepak, dan satu lagi berperawakan tinggi dengan badan berisi dan style rambut yang sama.

  ''halo mbak'', ucap Intan menyapa

  ''halo, baru juga to?'' tanya wanita yang bertubuh tinggi

  ''iyaa,, namamu siapa?'' tanyaku kepadanya

  ''Tika'' jawabnya sambil mengulurkan tangan nya dan tersenyum.

  ''loh,, aku juga Tika, haha'' sambung Intan

  ''hahaha sama ya, by the way namaku Arum'' kataku gantian menjabat tangan Tika

  ''lhoooo, kok kembar? jenengku yo Arum (namaku juga Arum)'', jawab wanita disebelahnya

 jadi, lucunya kita berempat memiliki nama yang sama, 2 Arum dan 2 Tika. Mereka berdua datang dari kota Tulungagung.

Singkat cerita, setelah agak lama kita berbasa-basi, aku dan Intan memilih lemari untuk kita meletakkan barang, lemarinya ada 4 deret, tiap deret nya ada 5 lemari yang menempel jadi 1, mirip laci barang yang ada di kampus, ketika aku berdiri di depan pintu lemariku, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak, dan benar, aku terhentak saat membuka pintu lemari ada sepasang bola mata yang menggelinding dari dalamnya.

  ''allahuakbar...!!''

  ''eh, kenapa Bee?, tanya Intan panik

  ''ohh, gak papa kok, kaget aja soalnya ada serangga tadi'', jawabku sekena nya

  ''oalah, kirain kenapa, abis ini kita cari makan yuk, laper banget nih'', ajaknya

  ''iya yuk, nih udah selesai kok aku''. cepat-cepat ku menutup lemariku.

Siang itu menunjukkan pukul 14.10, kami keluar dari dalam asrama dan berjalan melewati lorong yang kami lalui tadi pagi, dan ketika melewati musholla yang berada di dekat belokan, mataku berkeliaran cepat menyusuri ruangan didalamnya, dan kosong. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada bapak tua berambut panjang yang ku sapa tadi pagi.

  ''ah, mungkin bapaknya udah pulang deh''. kataku pelan

  ''hah? bapaknya siapa bee?'', sahut Intan

  ''aku tadi lihat ada bapak-bapak yang lagi dzikir disini, kamu lihat juga, kan!?'', tanyaku meyakinkan

  ''hei, bapak-bapak yang mana? aku nggak lihat sama sekali, disitu nggak ada siapa-siapa ya, mungkin cuma perasaanmu aja''. jawabnya .

  ''ya, mungkin cuma perasaanku aja.'' ucapku berusaha mengabaikan nya.

 


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Zaitun

 Minggu siang  anak-anak lagi mainan, masjo lagi tiduran sambil nonton tv, aku lagi rebahan sama Scroll hp *Kling* "beli minyak zaitun dmna ya??" (Chat dari ibu) "Di Subur ada mik" (subur nama minimarket deket sini) "Arum nggak keluar??? ini kata tante suruh ngasih minyak zaitun" (buat luka bakar nya ibu) "Ya nanti tak beli mik. Ini leherku tambah sakit e" (btw leher ku lagi kencengklak pemirsah wkwk) Singkat cerita karna udh jam 12.10, anak ngoceh laper, kebetulan lagi males masak (sering sih wkwk), jadi nya aku keluar sama kakak (anakku yg gede) buat beli mie ayam 4bungkus, sehabis beli mie, sekalian deh aku pergi ke minimarket karna udah janjiin beli minyak zaitun. Naah.. pas nyampe sana aku langsung masuk kedalam minimarket nya, ada kali kita muterin rak-rak disitu berkali-kali sampe karyawan nya pada ngeliatin udah kaya thawaf aja wkwk, yang ada cuma shampo zaitun, sabun zaitun, handbody zaitun, sementara barang yang kita cari gaada. . Yap. ...

Jailangkung Bodol

 Ada pengalaman lucu sekaligus menegangkan yang aku inget, kalian pasti gak asing sama jailangkung kan? Permainan yang cara memainkan nya bisa menggunakan media kertas dan koin, spidol, maupun boneka dari ranting kayu atau bambu yang di rakit seperti orang serta kelapa nya yang dari batok kepala. Eh kebalik.  Ya pokok nya tujuan nya tak lain tak bukan untuk memanggil arwah yang ada disekitar. Permainan ini dimainkan oleh lebih dari satu orang, yang nanti nya itu boneka kita pegang secara bersama-sama sambil melantunkan ritual pemanggilan si jailangse wkwk. Nah di bawah nya udah disiapin kertas bertuliskan 26 abjad yang dimana jika beruntung salah satu arwah bakal merasuki boneka yang udah kita pegang tadi dan mulai lah wawancara nya haha. Nah, aku tuh ada kelebihan dari kecil, bisa melihat atau minimal ngerasain keberadaan makhluk astral yang ada disekitar ku, ada banyak nih pengalaman soal mistis tapi sabar ya, nanti bakal ku tulis next time, hihi Waktu itu aku masih kelas 4 ...